Aku bahagia

Bismillah hirrohmanirrohim….

Kini, mencari kambing hitam atas kegagalanku bukanlah tujuanku. Karena aku telah puas mengkambinghitamkan semuanya. Rasanya tidak pantas aku mempersalahkan mereka. Ini adalah tulisan pertamaku setelah blog friendsterku ikut dimusnahkan secara masal oleh friendster. Tapi, karena tanganku sendiri yang menulisnya, maka mustinya tanganku punya folder-folder backupnya. Dan otakku masih mengingatnya. Tidak penting apakah aku melupakannya ataukah mengingatnya. Karena setiap tulisanku merupakan akumulasi perasaan dan semangat waktu itu.

Ramadhan 1432 H

Pelajaran tentang kesabaran darimu telah sampai padaku Ya Allooh…. Teringat kata2 yg bagus “bahwa kesuksesan itu ada setelah 99 kali kita mencoba, jangan menyerah, hingga ke-100” atau lebih luasnya “jangan menyerah, karena setelah ini akan ada keberhasilan, seperti gelap yang tak selamanya tak berkesudahan. Sama halnya dengan kegagalan yang juga akan melewati keberhasilan jika tiba saatnya”. Berbahagialah kamu yang telah berusaha. Berusaha belajar dari kesalahanmu dan kesalahan orang lain untuk kamu jadikan pelajaran.

Setelah hamper setengah jam aku berusaha bersabar mendengarkan pemateri bertutur, hamper saja kulangkahkan kakiku keluar masjid. Sampai tiba saatnya sholat tarowih yang subhanallooh….. jauh lebih baik dari pada wejangannya. Rasanya, hanya ada kenikmatan setelah kita mampu bersabar.

Heran, mengapa setiap pemateri tidak pernah menemukan korelasi antara puasa dengan iman dan ketaqwaan sebagai otput. Hamper setiap kali pemateri menyampaikan ayatnya dan menjabarkannya, aku tidak pernah menemukan klimaks dari penjelasannya. Dan hamper tiap tahun juga sama definisinya. Ada yang fokus pada keimanan yang berarti kita harus selalu patuh pada aturan2nya dan menjauhi larangannya, terus dilanjutkan ke penjelasan yang entah mengalir bagai sungai.

Puasa(menahan diri dari lapar, dahaga dan hawa nafsu)+iman = hamba bertaqwa

Juga permasalahan terceraiberainya jama’ah menjadi buah bibir hatiku selama aku sholat berjama’ah. Bagaimana tidak, selama ini aku selalu merasa sholatku tak sempurna dan berharap salah satu di antara jama’ah ada yg baik sholatnya dan menjadi washilah bagi semua jama’ah mendapatkan pahala, tapi ternyata barisannya renggang dan tidak lurus. Whoiyyy “lurus dan rapatkanlah barisanmu, karena lurus dan rapatnya merupakan kesempurnaan sholat” bukankah imam sudah mengingatkannya. Jadi, sebaik apapun pakainmu, wudhumu, dan sholatmu, tidak akan dinilai sempurna sebelum lurus dan rapat!. Aigooooh. Andaikan dakwah ini lebih terstruktur…. Andaikan ada gerakan dakwah kembali ke masjid sebagai pusat perbaikan moral. Tapi, juga tidak melulu di masjid lah…

Alhamdulillah rasa kantuk dan kemalasan jariku di atas keyboard sudah mulai berkurang. Ya Allooh, alumnikan aku sebagai orang yang kautambahkan ‘ilmu bermanfa’at dan juga kefahaman atasnya.

Udah ah. Ada yg ngambek neh… ntar dilanjut lagi dah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s