Dakwah ini tidak membutuhkan kalian, tapi kalianlah yang membutukannya…

Oh iya, ada lagi… dia mengatakan dengan percaya dirinya

“sesungguhnya dakwah ini tidak membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan dakwah”.

“SUDAH SALAH…PINTER PULA MENYEMBUNYIKANNYA”. dulu, pernyataan ini membuatku ragu untuk meninggalkan rutinitas kegiatan yang kuanggap dakwah. sekarang, aku lebih bisa melihat dengan jernih, bukan lagi menggunakan kaca mata kuda (kaca mata yang gak terasa telah dipasang mereka dengan berbagai doktrin)… akan kuulas pandanganku sekarang mengenai pernyataan tersebut..

semua pasti sepakat, mengenai isi kalimat tersebut. bahkan diriku juga gak mempermasalahkan kata-kata tersebut. tetapi, ternyata, dia tidak dengan benar menempatkan kata-kata tersebut sesuai dengan peruntukannya… bagi seseorang yang punya banyak ilmu, sedangkan dia enggan untuk berdakwah, maka kata-kata tersebut sangatlah pedas dan menggugahnya. tetapi, bagi seseorang yang memandang negatif terhadap sebuah organisasi dakwah / partai dakwah, kata-kata tersebut terasa kurang pantas… entah kenapa, koq aku merasa, kata-kata sebaik itu maknanya disalah gunakan untuk menakut-nakuti seseorang agar tidak meninggalkan organisasinya, dengan menggunakan kata-kata itu… ini kan namanya menggunakan kata-kata yang tepat, pada situasi yang tidak tepat. seakan-akan dijadikan alat nakut-nakuti, “kalo saja ente keluar, sesungguhnya dakwah ini tidak membutuhkan ente, tapi ente yang butuh dakwah ini” dakwah yang mana nich??? dakwah, opo organisasi dakwah??. dakwah opo partai dakwah??.

sekali lagi, jangan gunakan kata-kata tersebut hanya untuk menjaga keutuhan organisasi dakwah donk… seakan-akan jadi gak berdakwah, jika gak mengikuti organisasinya… padahal, ada juga dakwah fardiyah.. ini juga bukan berarti kutolak dakwah jama’iyah…

Dia juga mengatakan, “kita ini banyak,  sedang kamu sendirian… mana yang benar???” gila gak orang ini??? bisa jadi sich, aku yang gila, tapi dia sepertinya juga telah teracuni dengan doktrin sistem demokratis… padahal, islam mengajarkan kepada kita, untuk tidak melihat siapa yang mengatakan kebenaran. tetapi, lihat apa yang dia sampaikan. terdapat dimensi kearifan dalam melihat permasalahan dengan tetap mengedepankan pandangan utuk mengenai sebuah permasalahan dengan memiliki fundamental pemahaman yang utuh dan gak terpotong-potong serta tidak teracuni dengan sistem manusiawi apapun dalam otak kita.  saat kubantah dengan mengatakan “banyak belum tentu benar”, dia memandang picik kepadaku… bukankah, mayoritas juga tidak sepenuhnya benar, jika tidak diikuti dengan kafa’ah / pemahaman yang diperlukan??. seribu orang awwam mengatakan cara memasak begini-begitu.. tetapi satu orang koki mengatakan begini-begitu… emnurutku sich, yang paling terpercaya ya koki, dari pada orang awwam…orang awwam gak pernah masak, lha koki masak terus…

Ada lagi, dia juga mengatakan

“kita ini jama’ah manusia, bukannya jama’ah malaikat”

..Whaha..wahaha.. gobloknya sich orang ini… membandingkan koq antara apel dan pisang. kapan apel bisa menjadi pisang??? kapan coba??? berevolusi sampai kapan kira-kira, sampai sebuah apel bisa menjadi pisang yang identik??? kalo berani, mari kita bandingkan antara apel berkualitas dengan apel yang gak berkualitas sama sekali… lantas, kita siapkan ukuran-ukuran yang disepakati oleh semua orang/ mayoritas. kemudian beri penilaian dengan obyektif pada apel yang ada di tangan kita…. bukankah ukuran jama’ah berada pada manhajnya & pada implementasi manhajnya? semakin banyak mengadopsi dan mengutip dari alqur’an dan sunnah, semakin baik… kata-kata orang ini sepertinya paling cocok untuk seseorang yang gak mau diberi masukan mengenai kesalahan-kesalahannya, seakan-akan kesalahan itu hanya untuk diketahui kemudian dmaklumi, dan dilupakan… alias diajadikan apologi. bayangkan jika perusahaan melakukan kesalahan, terus bosnya melaporkan ke atasannya gini “kita ini manusia pak, bukan malaikat”. paling-paling juga dipecat orang ini… karena meskipun demikian, kesalahan yang dilakukan manusia bisa diminimalisir sampai mendekati 0 mungkin.. itulah mengapa muncul ISO, TQM, Six sigma dengan zero defecnya.  seakan-akan dia/ kelompoknya, ato organisasinya gak menerima kritik, diberi masukan sesama manusia, malah mengatakan “kita ini jama’ah manusia, bukan malaikat” aneh… sejarah akan mengulangi dirinya kembali, dan itu yang akan terjadi, jika kita tidak bisa mengambil pelajaran dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada…

Malang, bulan pertama dalam tahun ini. tahun 2009. sesaat sebelum berangkat ke masjid tadi, aku melihat bintang jatuh… Subhanallooh… siapakah yang bisa melihatnya dengan jelas di belahan bumi yang lain, lirih dihatiku mengatakannya..

3 thoughts on “Dakwah ini tidak membutuhkan kalian, tapi kalianlah yang membutukannya…

  1. Pernyataan “dakwah tidak membutuhkan kita, tapi kita membutuhkan dakwah” maksudnya apa?. Kalau pernyataan “Allah tidak butuh pada kita, tapi kita membutuhkan Allah” ini baru masuk akal.
    Begini, Allah menciptakan manusia di bumi ini adalah untuk menjadi khalifah yang memakmurkan bumi-Nya. Dalam al-Quran Allah SWTberfirman: Inni jaa’ilun fil ardli khaliifah. Dan Allah mengutus seorang Rasul pada suatu generasi adalah untuk menyampaikan syariat dan ajaran Allah. Ini artinya bahwa suatu ajaran bisa sampai pada suatu ummat lewat ummat-Nya yang terpilih, yaitu Rasul Allah. Karena dakwah itu barang mati, tidak bisa sampai pada kita tanpa perantara.

    • Begini bang, ini kan ceritanya ada yang nakut-nakuti seseorang untuk tetap dalam kelompoknya. Dengan menggunakan kata-kata yang menurut saya tidak tepat pengalamatannya. “sesungguhnya dakwah ini tidak membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan dakwah”…nah kata-kata ini dialamatkan pada seseorang yang mau keluar dari sebuah “organisasi dakwah(klaimnya sich..)” karena dia telah melihat penyimpangan dan menyampaikannya, tetapi no response. makanya dia mengatakan hal itu, padahal alasan dia keluar dari organisasi itu, bukanlah tidak mau berdakwah… tetapi tidak mau beraktivitas pada organisasi yang “kedoknya” dakwah, sedangkan proporsi dakwahnya hanya 10%, sisanya yang 90% kepentingan pemimpinnya yang menjelma menjadi keputusan-keputusan organisasinya. saya pun menganggap tidak ada yang salah dalam kata-kata tersebut, karena kita adalah da’i sebelum segalanya “nahnu du’at qobla ‘ala kullisyai’ “. kata-kata yang disampaikan abang juga gak salah… mungkin tulisan saya yang membingungkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s