Berbeda sekali

2037679246_b5a125b0291Akankah kecerdasan seseorang menjadikannya seseorang yang baru? seseorang yang lebih mirip dengan kecenderungan selera otak dan perasaan terhadap apa-apa yang membuatnya menyala-nyala saat mempelajarinya. 2 dimensi saat kita melihat sebuah fenomena. dimensi pengamat dan dimensi pelaku…

Pengamat selalu melihat kepada sesuatu atau seseorang yang lebih dominan. sedangkan salah seorang dari pelaku selalu merasa “jika tidak ada yang ngomong, mending aku yang ngomong saja!!”.

Malam ini, Allooh menunjukkan keanggunannya malamNya dengan membiarkan daun-daun basah terkena hujan yang belum reda sejak sore tadi, dengan kehangatan sekelompok hewan jalanan yang sedang berkumpul mencari kehangatan di luar sana. semakin dalam kesadaranku terhadap kenyataan bahwa ternyata akan ada selalu 2 hal yang berlaku bagi para penuntut ilmu… menjadi cerdas dengan kematangannya dengan menjadi ingin terlihat cerdas dengan beberapa lampiran omong kosong yang selalu dibicarakan. si “menjadi cerdas” selalu merasa bahwa dirinya akan selalu kurang dengan apa yang ada pada dirinya saat ini. sehingga kemudian terrefleksi pada kesabarannya melewati hari demi hari dengan tumpukan modul dan buku-buku yang relevan dengan konsentrasi keilmuannya. tetapi tidak bagi si “ingin terlihat cerdas”, dia akan selalu merasa cukup dengan apa yang ada pada dirinya, lantas terefleksi dengan sikap meremehkan… merendahkan… bahkan sengaja mencari muka dengan bertanya pada sesuatu yang hanya dia yang mengetahui jawabannya.

2 hujan deras sore tadi memandikanku dari kemalasan berusaha, bangkit dari kemalasan dan usaha merubah takdirku. Selintas, dengan masih mengenakan pakaian basah karena kehujanan aku teringat catatan saudaraku. saat itu dia sedang berteduh di teras depan kostnya.. dengan pakaian kemeja yang tersetrika rapi serta alroji keren yang menyertainya, saat yang sama juga tengah dialami temanku-yaitu kehujanan dan sedang menunggu keputusan dengan kebulatan tekad menerima risiko yang bakal terjadi- selintas kemudian lewatlah wanita tua di depan matanya… dengan perasaan iba, temanku bertanya “koq nekat nek?hujan-hujan gini tetep berangkat?”… lalu temanku termenung dengan kematangan pribadi nenek tersebut saat menjelaskan alasannya…

“Nak… hujan akan tetep hujan, dia akan berjalan dan menghabiskan waktu kita untuk menunggunya… sedangkan waktu kita jiga terus berjalan… kenapa hanya kita isi dengan menunggu hujan reda?”. huuaaa…… jelas sekali bedanya kan??? antara orang cerdas dengan orang yang hanya ingin kelihatan cerdas??? meraka matang dengan pengalaman dan pelajaran dalam kehidupan…

kemudian tibalah saatnya penyesalan… entah mengapa, seseorang yang sudah berusaha sekuat tenaga pun, masih merasa menyesal dengan ketidak optimalan usahanya, sampai kemudian Allooh menurunkan takdirnya… menghela napas lagi…. sambil terus merasa bahwa ada banyak kesempatan yang menghampiri kita dengan hanya sedikit perhatian kita abaikan semua itu.

malang, gerimis sejak sore tadi hingga malam ini 22.50 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s