TAKWA.. KUNCI KEADILAN-Penilaian dan Promosi Kader Dalam Da’wah bag 8

Karenanya, harus ada sifat wara’. Sifat ini disyaratkan bagi muqawwim sebagaimana para ulama mensyaratkannya kepada ahlul jarh wat ta’dil dan sejarahwan. Tidak ada salahnya kami nukil pernyataan As-Subky mengenai syarat bagi sejarahwan ini:

“Mereka berada di tepi jurang yang hendak runtuh, karena mereka bermain dengan kehormatan manusia. Seringkali mereka meriwayatkan kabar yang sampai kepada mereka dari pendusta atau orang jujur. Maka, sejarahwan harus seorang yang alim dan mengetahui keadaan orang yang diambil riwayat hidupnya; tidak ada persahabatan antara keduanya sehingga hal itu membawanya pada fanatisme, juga tidak ada permu¬suhan sehingga membawanya pada sikap menutup mata… “(Mu’id an-Ni’am wa Mubid an-Naqam, As-Subki)
Bisa jadi syarat-syarat ini termasuk alasan penting pembatasan proses taqwim dalam masyarakat Muslim, dalam ruang lingkup yang sempit dan tertentu, demi mewujudkan kemaslahatan umum dan menghindari sejumlah kerusakan yang ditimbulkannya.
TERMASUK ADIL ADALAH KESEIMBANGAN

Termasuk adil, bahkan menjadi tuntutannya, adalah keseimbangan antara jarh dan ta’dil, antara tawtsiq dan tadh’if. Tidak hanya berpegang pada sisi kebenaran saja namun mendiamkan sisi yang lain. Karena ucapan celaan terkadang menyimpan pujian, dan terkadang sisi lahirnya pujian namun menyimpan celaan. Diantaranya apa yang dilakukan sebagian ulama’ jarh dan ta’dil. Mereka melebih-lebihkan pujian terhadap orang yang disukainya dan menyebut setiap kebaikannya, tetapi melupakan berbagai kesalahannya dan mentakwilinya sedapat mungkin. Jika ia menye¬butkan seseorang dan pihak lain (orang yang tidak disukainya), maka ia banyak menyampaikan ucapan yang mencela, mengulang-ulang pernya¬taannya, memperjelasnya dan mengulang kalimat jarh dengan berbagai gaya bahasa. Ia tidak menyebutkan kebaikannya sama sekali. Dan jika salah seorang dari mereka melakukan kesalahan, maka ia menampakkannya, dan terkadang menyebutkan ucapan terselubung sebagaimana yang biasa diucapkan pada hari ini, padahal ini merupakan fenomena lama. Ibnu as-Subky menggambarkan sebagai berikut:
“Sesungguhnya orang yang melakukan hal-hal di atas, tiap kali disebutkan seseorang di hadapannya, maka ia akan berkata “biarkan saja”, atau “mengherankan”, atau “semogaAllah membenahinya”; ia mengira tidak meng-ghibah-nya, sedangkan hal itu adalah ghibah terburuk… “(Thabaqat asy-Syafi’iyah, Ibnu as-Subki)

Atau, muqawwim memusatkan pada satu sisi – yakni satu kebenaran- dan mengabaikan kebenaran lain, sehingga hasil gambar menjadi kabur. Semua itu meleset dari takaran tepat. Ketepatan ukuran tidak lain merupakan bagian dari keadilan, sebagaimana dalam tafsir Imam Ali ra. mengenai keadilan dalam firman Allah: “SesungguhnyaAllah memerintahkan keadilan dan kebajikan”.
Beliau berkata, ‘adil adalah inshaf (proporsional), dan ihsan adalah tafaddhul (mengutamakan) (‘Uyun al-Akhbar 3/19), Termasuk tuntutan keadilan dan ketepatan takaran adalah keseimbangan dan tidak berlebihan dalam memuji atau mencela. Seorang muqawwim – sedapat mungkin- tidak boleh mengangkat orang yang disukainya melebihi tingkatannya, atau sebaliknya, meskipun biasanya seseorang tidak memiliki kemampuan untuk itu. Cinta kepada sesuatu membuat buta dan tuli…

“Pandangan ridha tak dapat melihat cela sebagaimana mata kebencian menampakkan berbagai keburukan “.

Tetapi, hendaknya seseorang berusaha sekuat tenaga, jujur terhadap dirinya sendiri sedapat mungkin: “Dan bertakwalah kamu kepada Allah sejauh kemampuan kamu”. (QS, at-Taghabun: 16)
Imam syafi’i mengisyaratkan akibat buruk dari sikap berlebihan ini: “Aku tidak mengangkat seseo¬rang di atas kemampuannya, kecuali justru menjadi remeh derajatku di hadapannya sebanyak pengangkatanku terhadapnya atau bahkan lebih…….(al-I’lan bi at-Taubikh, as-Sakhawi)

Sebenarnya, tawazun merupakan karakteristik syariat dalam setiap persoalan. Pujian dan sanjungan tidak lain hanyalah salah satu fenomena karakteristik ini, sebagaimana dinyatakan Sultan para ulama ; Izz ibn Abdul Salam ketika menyebutkan kaidah kesederhanaan dalam berbagai kemaslahatan. Ia mengingatkan pentingnya kesederhanaan dan keseimbangan hingga dalam pujian dan celaan:
“Begitu juga, pujian mubah hendaknya tidak banyak dilakukan, namun perlu banyak dilakukan ketika ada hajat untuk mendorong yang dipuji melakukan hal-hal yang dipujikan, atau mengingatkan akan nikmat atasnya agar ia mensyukurinya, dengan syarat ia terjaga dari fitnah. Begitu juga cacian yang diperlukan, hendaknya tidak diperbanyak kecuali jika diperintahkan dalam kesaksian, riwayat, dan musyawarah. Anda tidak mendapati pemuji kecuali kehinaan, dan tidak mendapati pencela kecuali kehinaan”(Qawa’id al-Ahkam, Izz ibn Salam 2/177)
Harus dijelaskan bahwa dua kata “pemuji” dan “pencela” merupakan bentuk hiperbola, maksudnya adalah orang-orang yang berlebihan dalam memuji dan mencela. Dan teks ini dimengerti bahwa di antara kemaslahatan yang dibawa syariat adalah sikap seimbang yang terpuji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s