PARAMETER DALAM TAQWIM-Penilaian dan Promosi Kader Dalam Da’wah bag 7-

Inilah sejumlah aturan umum dan parameter proses taqwim dengan dua bentuknya: Tautsiq (penilaian tentang ke-tsiqah-an) dan tadh’if (kelemahan). Kemudian ditindaklanjuti secara terperinci dengan sejumlah aturan untuk setiap proses, karena penilaian tentang ke-tsiqah-an didasarkan pada objektivitas dan tidak berlebihan. Sedangkan aturan-aturan tadh’if (menilai kelemahan) dasarnya adalah adab Islam, keadilandan keseimbangan, sebagaimana aturan-aturan ini memuat banyak konsep pembinaan dan adab para da’i.

PERTAMA-IKHLAS

Orang yang menjalankan proses taqwim hen¬daknya ikhlas dalam perkataan, dan dalam melakukan penilaian ini hendaknya diiringi dengan rasa cinta akan pahala; setiap pujian atau celaan tulus demi ridha Allah tanpa tercemar oleh niat lain, seperti mencari kepentingan pribadi meskipun kecil seperti mencari simpati, atau membagus-baguskan ungkapan, atau untuk mendapatkan sesuatu. Begitu pula, pujian hendaknya tidak karena kedekatan pribadi, atau kasih sayang keluarga atau bahkan hubungan dakwah sebelumnya. Seperti halnya -dengan standar yang sama- tidak mencela untuk menjauhkan seseorang atau menyerangnya karena ambisi pribadi, atau karena perbedaan pendapat, atau karena kedengkian. Hal itu karena proses taqwim harus dilakukan secara ikhlas hingga mendatangkan berkah keberhasilan dakwah. Begitu pula, wajib diingatkan bahwa Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang yang mencalonkan seseorang untuk satu tugas, sedangkan ia melihat ada orang lain yang lebih layak. Maka hendaknya muqawwim (pelaksana taqwim)menyadari betul agar pekerjaannya dalam taqwim tidak untuk menampakkan kemam¬puannya dalam berpendapat, dan hendaknya tidak menjadikan proses taqwim sebagai kebang¬gaan intelektual yang dilakukannya, karena keunggulan pendapat dan kecerdasan akal jika tidak dipergunakan untuk kebaikan, maka berarti bencana bagi pemiliknya. Dengarlah pendapat Hasan Al-Bashry:

“…Keutamaan pendapat jika tidak digunakan untuk mencari ridha Allah dan manfaat bagi manusia, maka ia membawa kepada dosa”(‘uyun al-Akhbar 1/329)

Muqawwim hendaknya selalu ingat agar tidak memaksakan diri melakukan taqmim jika tidak ada kebutuhan. Sesungguhnya ucapan termasuk perbuatan, sedangkan perbuatan tergantung pada niat. Hendaknya selalu memahami bahwa kehormatan kaum Muslimin adalah sebuah lobang neraka.
Bagaimana jika mereka ini adalah ulama atau orang-orang shaleh. Alangkah manis ucapan ‘Asakir – meskipun khusus seputar ulama:

“Menodai kehormatan mereka padahal mereka bersih adalah perkara yang sangat besar (dosanya). Menodai kehormatan mereka dengan berbagai kebohongan dan kepalsuan adalah ladang yang busuk. Berbuat curang kepada orang yang dipilih Allah untuk menyebarkan ilmu meruyapan akhlaq tercela; Meneladani apa yang digunakan Allah untuk memuji ucapan orang-orang teladan berupa istighfar untuk orang yang mendahului mereka adalah sifat mulia…”(Tabyin Kadzibi al-Muftara 29)

Harus selalu diingat sabda Nabi saw sebagaimana termaktub dalam shahih bukhari:
“Sesungguhnya seorang hamba mengatakan satu kalimat yang tidak disadarinya; tetapi ia akan tergelincir karenanya di neraka lebih jauh dari jarak antara Timur “(Fath al-Bari 11/308)

KEDUA-KEADILAN.. DASAR SYARIAT
Keadilan dan keseimbangan harus selalu diperhatikan, karena proses taqwim merupakan salah satu bentuk amanat. Allah telah memerintahkan kita menyampaikan amanat kepada yang berhak dan berbuat adil. Amanat umum lebih utama dari amanat khusus. Berbuat adil dalam berbagai kemaslahatan agama lebih diwajibkan, sedangkan amanat tidak dapat dilaksanakan kecuali dengan adil. Langit dan bumi tegak dengan keadilan. Syariat diturunkan demi keadilan, bahkan manusia diciptakan dengan watak menerima keadilan jika ia terbebas dari hawa nafsu dan syahwat. Allah telah berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampailan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.”(An¬ Nisa’: 58)

Penyampaian amanat dengan berbagai macam¬nya, tidak akan terlaksana kecuali dengan wilayah (kewenangan) yang merupakan dasar amanat. Dan perkara kewenangan mengharuskan amar ma’ruf dan nahi munkar. Selanjutnya menuntut dilakukannya jarh dan ta’dil. Dengan demikian, proses taqwim merupakan bagian dari kewajiban walayah yang harus ada, dan syaratnya adalah adil mengingat adil merupakan syarat kewenangan.
“Jika ayat tersebut mewajibkan penyampaian amanat kepada yang berhak serta memutuskan hukum dengan adil, maka keduanya mencakup politik yang adil dan otoritas yang shalih. Kemudian, penyampai amanat, dengan menentang hawa nafsu¬nya, akan dikuatkan kedudukannya oleh Allah, dijaga keluarga dan hartanya, sedangkan yang mentaati hawa nafsunya akan dihukum Allah dengan menggagalkan tujuannya sehingga keluarganya terhina dan hartanya lenyap”(Fatwa Ibnu Taimiyah 28/246

MESKIPUN KERABAT DEKAT
Di antara amanat dalam taqwim adalah me¬nyampaikan kesaksian sekalipun menyangkut keluarga kerabat. Di sini dapat dikiaskan dengan ucapan para muhaddits yang terpercaya: ”Ibnul Madiny ditanya mengenai bapaknya, maka ia menjawab: “Tanyakan tentang dia kepada selainku”. Namun mereka mengulangi pertanyaan, lalu dia merenung kemudian mengangkat kepalanya: “Ini adalah masalah agama; sesungguhnya ia lemah”.

Abu Dawud pengarang kitab al-Sunan berkata: “Anakku Abdullah pembohong’.
Hal yang serupa dengannya adalah ucapan al Dzahaby mengenai anaknya, Abu Hurairah: “Ia menghafal Al-Qur’an, kemudian ia meninggalkanya hingga lupa”.
Hal seperti ini banyak dijumpai dalam kitab-kitab hadits dan thabaqat. Sedangkan para penjilat tidak menyampaikan amanat karena kecilnya sifat wara’ mereka. Karena itu dikatakan:”… jika pemberi pujian mencari muka; maka ia tidak menimbang sifat wara; bahkan mungkin ia menam¬pakkan kejahatan besarnya dalam bentuk pujian, kehormatan dan keluhuran… “(al-I’lan bi at-Taubikh liman Dzamma at-Tarikh, as-Sakhawi)

Terkadang terjadi penyimpangan dari adil ke zalim, dari seimbang ke berlebihan, atau dari jujur ke munafik, disebabkan banyak hal. Kadangkala celaan disebabkan rasa benci, marah dan dengki, atau memperebutkan kedudukan, atau dugaan yang salah, dan lain sebagainya. Sebagai mana pujian disebabkan adanya kebutuhan tertentu atau kekaguman mendadak. Semua itu menunjukkan tidak adanya keadilan dan merupakan tindakan mengurangi hak orang lain. Hal itu bertentangan dengan firmanAllah: “Dan jangan kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya`. (Al-A’raaf: 84)

Bahkan, di antara keadilan muqawwim terhadap dirinya sendiri adalah berbuat adil dan wara’. Karena jiwa manusia kadang berubah-ubah. Zaid ibn Aslam meriwayatkan dari bapaknya dari Umar ibn Khathab ra. Ia berkata:
“Hendaknya rasa cintamu tidak menjadi beban, dan rasa bencimu tidak menjadi kehancuran”. Aku bertanya: Bagaimana bisa demikian? Beliau berkata “Jika engkau mencintai maka engkau terbebani seperti beban anak kecil, dan jika engkau membenci maka engkau menginginkan kehancuran atas temanmu. ” (al-Adab al-Mufrad, bukhari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s