SISI POSITIF DAN NEGATIF -Penilaian dan Promosi Kader Dalam Da’wah bag 2-

Sesungguhnya proses taqwim (evaluasi) sangat penting dan tidak dapat dihindari jama’ah Islam Hal itu karena keragaman kewenangan dan tujuan-¬tujuannya dalam amal Islami, yang menuntut pengenalan tentang dindividu dan penyeleksian mereka hingga dimungkinkan pemberian kewena¬ngan kepada mereka. Seperti halnya pengetahuan mengenai para pendukung, musuh dan tingkatan-¬tingkatan mereka yang berlainan juga sangat penting bagi amal Islami dalam masyarakat. Semua ini sangat diperlukan oleh setiap khiththah tanfizhiyah (langkah praktis), baik jangka pendek atau jangka panjang. Karena manusia -dalam amal Islami khususnya sebagai perilaku manusia- merupakan bagian dari langkali-langkah tersebut, dan paling besar pengaruhnya dalam faktor-faktor keberhasilan atau kegagalan.

Sekalipun proses ini sangat penting, namun terkadang dijalankan dalam bentuk yang tidak benar di dalam Jama’ah Islam. Terkadang proses ini kehilangan manhajiyah (aspek komitmen dengan manhaj) atau objektifitas, sehingga kurang bermanfaat. Sebabnya adalah sebagian anggota menggunakan haknya secara berlebih, hingga proses ini berubah menjadi semacam pencemaran nama baik, bahkan sebagai mimbar (media) pujian dan cacian. Selanjutnya, pihak-pihak yang memiliki orientasi berlawanan -dikarenakan perasaan yang sensitif¬ menghentikan proses ini dan mendakwakan bahwa proses ini bertentangan dengan takwa dan wara’ sehingga kemudian berbagai tugas dilimpahkan kepada orang-orang yang tidak berhak dan bukan ahlinya. Bahkan kadang terjadi seorang murabbi menangani dua tugas sekaligus sehingga berbuat melampaui batas di dalam suatu majlis, dan sensitifitasnya yang tajam menguasai dirinya di majlis lain sehingga menolak mengajukan pendapatnya tentang individu-individu. Dengan demikian, beberapa kepentingan terabaikan. Permasalahan ini juga memiliki sisi negatif lain.

Terkadang para da’i menggunakan hak mereka dalam taqwim tanpa berlebih atau berkurang, namun tanpa bersandar pada asas manhaji. Kadang seseorang menyebutkan letak kekuatan seseorang dalam banyak aspek tetapi tidak relevan dengan agenda bahasan, karena (misalnya) ia memuji kewara’an, keshalihan dan ibadah seseorang dalam konteks pencalonannya untuk sebuah tugas penulisan masalah-masalah poltik. Kadang seseorang memuji keberanian dan semangat orang lain dalam rangka pencalonannya untuk tugas musyawarah.

Demikian pula dalam konteks celaan dan tajrih (penilaian sisi negatif). Sedangkan sebagian yang lain membangun jarh (penilaian sisi negatif) dan ta’dil (penilaian sisi positif) berdasarkan asas selera dan formalitas. Sebagian sangat mahir melakukan seni pujian dan sanjungan karena merasa sebagai kewajiban persaudaraan atau menjaga kehormatan, tanpa melihat kemaslahatan amal. Sebaliknya ada orang yang sangat mahir melakukan seni melancarkan kritik dan mencari kesalahan tanpa melihat kenisbian parameter, dan kelayakan individu untuk satu tugas, tanpa tugas-tugas yang lain. Manusia sempurna jarang ada, begitu juga yang memiliki banyak kelebihan. Demikianlah, hilang keseimbangan di antara dua titik ekstrim.

Semua ini perlu dikaji disamping perlu diingatkan akan kelemahan sisi manhajiyah, dan diperlukan perumusan berbagai kaidah dan asas sebagai petunjuk para murabbi dalam melaksanakan proses taqwim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s