ORISINALITAS DAN AFILIASI (Ashalah dan Intima’) -Penilaian dan Promosi Kader Dalam Da’wah bag 3-

Tidak diragukan bahwa proses taqwim merupakan salah satu seni mengetahui manusia dan keadaan mereka secara umum (yakni bisa dianggap sebagai bagian dari ilmu antropologi). Proses taqwim ini merupakan ilmu Islam autentik yang bermula sebagai salah satu ilmu hadits Nabawi, dan menjadi ciri khas peradaban Islam.

Sebenarnya, penggunaan taqwim dalam bingkai kolektif di masa sekarang, meskipun bersandar pada sebagian acuan jarh wa ta’dil dalam ilmu hadits, hanya saja analogi mutlak tidak selamanya benar karena ada perbedaan substansial. Yaitu, bahwa jarh atau ta’dil dalam ilmu hadits bertujuan untuk mengetahui perawi secara khusus; dari segi tsiqah-nya dan kemampu¬annya dalam meriwayatkan. Sedangkan dalam taqurim dakwah, kritik bertujuan untuk mengetahui seorang manusia atau da’i, dari segi kemampuan dan kelemahannya secara garis besar. Secara prinsip, jarh dan ta’dil (di dalam ilmu hadits) pada akhirnya didedikasikan untuk menetapkan kebenaran nash Nabawi, dan implikasinya berupa derajat kelemahan atau keshahihan riwayat. Sementara itu, taqurim da’awi ditujukan kepada sejumlah tujuan universal dan final bagi aktivitas dakwah.

Meskipun pengamatan yang tajam menetapkan bahwa dasar taqwim ini adalah sama. Karena kajian penelitian pada keduanya (ilmu hadits dan dakwah) bertujuan untuk mengetahui sifat kuat dan amanat. Sifat amanat merupakan sifat yang ada pada dua proses taqwim tersebut, namun perbedaan terjadi pada kenisbian kekuatan. Karena, amanat di kalangan para perawi hadits berarti ketepatan dari hafalan, sedang¬kan dalam kegiatan dakwah berarti sejumlah karak¬teristik.

Kerena itu, jarh didefinisikan -secara istilah- oleh ahli hadits sebagai: .

“Munculnya sifat dalam diri perauri yang menciderai keadilan, hafalan dan ketepatannya, sehingga mengakibatkan kejatuhan atau kelemahan atau penolakan riwayatnya”.

Sedangkan ta’dil adalah

“Orang yang dalam soal keagamaan dan moralitasnya tidak muncul hal yang membuatnya tercela, sehingga dengan demikian kabar dan kesaksiannya diterima jika memenuhi syarat-syarat penyampaian “.

Dan dua definisi ini disimpulkan bahwa pengam¬bilan keputusan mengenai sifat perawi berkaitan dengan riwayat dan penyampaian nash, tanpa menyentuh karakteristik lain. Sedangkan dalam aktifitas dakwah, taqarim bisa didefinisikan dengan hal yang dapat membantu karakteristik lain, sehingga bisa dikatakan sebagai:

“Mengetahui sifat-sifat manusia secara utuh sehingga layak diberikan pelimpahan kewenangan keagarnaan kepadanya, atau pengambilan sikap positif atau negatif terhadapnya”.

Pengertian ini menggunakan tujuan-tujuan berbeda yang didasarkan pada sejumlah karakter atau sifat-sifat manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s