MENYIMPAN KEBAIKAN -Penilaian dan Promosi Kader Dalam Da’wah bag 6-

Meskipun telah disinggung bahwa proses taqurim terkadang. dilaksanakan para da’i pada umumnya, namun ini terbatas pada umumnya manusia, atau mereka yang ada dibawah bimbingan para da’I di satu sisi, dan dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti kebutuhan mendesak untuk hal tersebut di sisi lain. Pada dasarnya proses taqwim ini dilakukan oleh para pemimpin (amir) untuk tujuan mengetahui da’i dan apa yang layak untuknya. Orang yang bertanggung jawab (mas’ul) tidak lebih mampu dari selainnya dalam memilih orang yang pantas untuk suatu tugas. Dengan demikian, maka proses taqwim untuk tingkatan tertentu lebih baik dirahasiakan, demi menghindari kerusakan, menutup pintu kejahatan, menutup celah gunjingan dan jalan ghibah. Para pemimpin (amir) lebih menyerupai –dalam proses taqurim ini- ulama jarh wa ta’dil. Standarisasi para rawi dan menilai riwayat mereka tidak dapat dilakukan oleh setiap orang alim, bahkan oleh sebagian ulama hadits ahli dirayah, atau ahli syarah dan periwayatannya. Tugas sulit ini tidak dapat dipikul kecuali oleh pakar ilmu hadits, seperti Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ibnu Mu’in, Daaruquthni, Ibnu Hanbal, al-Dialiabi, Ibnu Hajar dan semisalnya.

Sebab dibatasinya proses taqwim tersebut pada para pemimpin (amir), selain menutup jalan bagi timbulnya kerusakan, adalah bahwa mereka lebih mampu meletakkan proses ini pada tempatnya yang benar dm lebih bisa berpegang teguh pada aturan¬-aturannya. Begitu juga karena biasanya mereka lebih mengetahui ilmu-ilmu syariat dan realitas, lebih mengetahui berbagai dalil, petunjuk dan pengalaman yang membuat mereka lebih mengetahui tujuan-tujuan kewenangan (walayah), ukuran kebutuhan terhadapnya ,dan berbagai krileria yang menjadi dasar pencalonan. Disamping itu, harus diupayakan nasehat terus menerus kepada para pemimpin (amir), me¬nyangkut pentingnya berpegang teguh pada moral Islami, aturan-aturan syariat, rasa wara’ yang terus menerus, meluruskan niat, menjaga lisan di tengah-¬tengah proses taqwim, demi menghindari tindakan berlebihan dan mencegah terjerumus dalam kerusa¬kan, yang dapat melunturkan keadilan. Sehingga, dosa akibat berlebih-lebihan (ghuluw) lebih besar dari pahala taqwim yang didapat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s