Kader yang nurut pemimpin, berarti ya layak menjabat….

Apa yang terjadi jika sistem sebuah sarana tadribat bagi ADK (TANDZIM Kampus) telah kehilangan atau lupa bagaiman penataan kader-kader yang sesuai dengan potensinya ?. mungkin semuanya akan berjalan dengan lancar apabila semuanya dipenuhi oleh kader-keder yang hanya melaksanakan apa-apa yang diperintahkan mas’ulnya(kader yes sir). Ada beberapa pertanyaan yang sampai saat ini harus dijawab dulu, kenapa? Agar ketika kader-kader faham, maka diharapkan kefahamannya setara dengan apa yang akan disumbangkan mereka bagi islam dengan dakwahnya. Diantaranya adalah:
1. dimanakah kita harus memposisikan dan menstratakan ini semua dalam: update informasi kejama’ahan, penentuan keputusan guna penataan kader-kader.
a. murobbi
b. mas’ul tandzim
c. ikhwanul muslimin
d. pks
2. apakah qaidah ini masih ada “jama’ah hual hizb, hizb hual jama’ah”? lalu apa sebutan untuk jama’ah kita sekarang ini?
3. Apakah kalau kita sering datang pada agenda yang diadakan jama’ah. Dan kita punya perasaan tidak enak bila tidak hadir, berarti kita telah punya penyakit ashobiyah?
4. sfgsfg
5. sfgsfg
6. sgsfgfsg
7. sfgfsg
fakta –fakta yang ada di lapangan adalah:
1. memang tidak ada senioritas dalam da’wah. Tapi itu itu terjadi di jama’ah atau tandzim
2. Ada yang mengataan bahwa “jika sebuah tandzim hanya berorientasi pada kuantitas, bukan pada kualitas kader-kadernya. Maka, yang akan terjadi adalah qiyadah hanya akan disibukkan dengan memahamkan jundi tadi”. Ataukah kita telah melupakan untuk harus tetap mencapai idealitas kita, meskipun pada kenyataannya kita memang telah gagal menyiapkan angkatan mujahid untuk episode selanjutnya. Karena kita hanya disibukkan dengan membantu kader tadi untuk mencapai idealitasnya. Dan ketika telah mencapai idealitasnya, ternyata kita masih banyak meninggalkan perbaikan-perbaikan yang harusnya kita lakukan. Atau karena memang tidak ada da’wah yang sebenarnya di kampus. Yang ada adalah tadribat/ latihan-latihan untuk kader. Atau tandzim kampusnya yang buat latihan, sedang amanah yang menempel di kita secara eksternal itulah yang sebenarnya da’wah?berarti kalau diranking, maka porsi tandzim untuk mendapat perhatian waktu kita harus lebih kecil dari waktu kita untuk menunaikan amanah kita secara eksternal.
3. Sistem, bukan tokoh. Apa yang terjadi jika semua orang tidak sadar bahwa adanya qiyadah dan adanya jundi,hanyalah sebagai strategi. Sedang tujuannya sudah tersistemkan dengan mekanisme yang biasanya dikatakan “Syuro”. Atau memang kita sedang menciptakan tokoh-tokoh dari latihan tadi?. Ada pandangan ideal ketika yang ada adalah sistem, dan bukan tokoh. Adalah semua melaksanakan apa-apa yang sudah menjadi perannya. Tidak ada lagi jundi atau qiyadah yang terimagekan buruk dalam melaksanakan amanah eksternalnya.
4. Tidak transparannya muwashofat kader pada setiap marhalah, membuat kader tidak tahu dimana dia sekarang. Atau “apa yang sebaiknya saya lakukan untuk menjadi terbaik”. Hal ini dapat dibuktikan dengan terteranya kata-kata dalam pembuatan muwashoffat kader da’wah kampus. Kata-kata itu adalah “ketika kader pada posisi XXX, maka kader harus mampu. Ini bisa didefinisikan “kader yang berada di posisi XXX dalam keadaan dimampukan, bukan karena kemampuannya dia diposisikan di XXX. Tidak adanya iklim kompetisi membawa dampak yang sangat terasa dalam tandzim. Sesuatu kelebihan syuro yang baik adalah berpadunya pemikiran koletif menjadi strategi yang tidak akan mudah dikalahkan dengan hanya mengunakan satu otak saja. Tapi, apa yang terjadi? Semuaya diam di syuro. Kemudian yang paling buruk dalam tadribat ini adalah pemimpin menekan seseorang yang justru produktif berfikir dan menyumbangkan solusi. Hal ini sengaja dilakukan untuk memompa yang lain katanya. Dari fenomena ini seharusnya kita bisa mengambil pelajaran. Bahwa diamnya seseorang dalam syuro buka hanya karena dia tidak berani, tapi bisa jadi karena:
a. Pemimpin tidak memberikan rasa aman pada peserta syuro. Akibatnya peserta syuri jadi canggung, malu. karena takut ditertawakan karena telmi, takut. Karena sering dipotong di tengah jalan saat ber argumen.
b. Dia tidak memiliki informasi yang cukup untuk melontarkan gagasannya. Lha wong syuro aja g pernah datang kok. Makanya, semakin kita sering update info dari syuro, kita akan terbiasa merangkai informasi untukdijadikan gagasan pemecahan sebuah permasalahan.
c. Atau mungkin dia lagi sakit gigi.
Jadi, tidak di benarkan sebagai pemimpin, kita membiarkan kondisi ini. Jadi, justru jangan memampatkan kemampuan seseorang guna memampukan seseorang. Karena itu sebuah kedzoliman dalam da’wah(ini kan karena si produktif ingin agar dia dapat banyak pahala saat melaksanakan perintah Allah untuk berda’wah. Kalau di tengah jalan dia ditarik ke dalam tandzim, maka jangan sampai kemampuannya jadi dibatasi. Gampangnya “amanah dari tandzim justru mengalahkan amanah dari Allah”). Karena ketidak produktivan seseorang dalam syuro itu puncaknya. Terus sebagai pemimpin, jangan kita hanya melihat dari satu fenomena saja. Tapi runtuta peristiwa yang memicu tidak produktivnya kadernya harus di cari. Kan beda…., antara membatasi dengan pembagian kerja.
5. Berhenti dari jama’ah tarbiyah tidak berarti berhenti dari tarbiyah. Karena seharusnya tarbiyah terus mengajari kita bagaimana berproses untuk menjadi lebih baik dari hari kehari. Ingat! Ketika Rasulullah ingin mengajarkan kita tentang definisi tarbiyah. Dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengambil pelajaran dari setiap kejadian dan mempersiapkan bekal untuk kematian. Juga pernah saya baca sebuah hadist bahwa allah mencintai orang yang lebih kuat. Ini menggambarkan sebuah dimensi tarbiyah, yaitu pembelajar abadi. Seringnya kita berharap pasti akan syurganya Allah, tapi seakan-akan pada saat itu sepertinya kita lupa bahwa ada juga neraka yang memanggil penghuninya. Saat kita tidak berjama’ah lagi. Kita akan banyak belajar tentang ukhuwah. Umum bagi kita merasakan ukhuwah disaat kita dalam sebuah jama’ah. Seakan-akan kita enggan mengenal saudara kita yang dipertemukan di saat-saat sholat dan beristirahat di masjid. Kita hanya sering memupuk ukhuwah kita disaat-saat khusus dan buruknya, dengan orang-orang tertentu saja(biasanya yang sefikroh). Dan gawatnya adalah kapan kita berashobiyah ria?
mungkin hanya ada satu yang ingin ditampilkan dari informasi di atas, yaitu kita musti faham bahwa wilayah tadribat / yang biasa disebut Tandzim yang didalamnya terdapat sistem pendewasaan kader. Karenanya musti ada evaluasi setiap tahunnya. Itulah mengapa tidak bisa kita pisahkan antara sejarah dengan manhaj da’wah kampus. ada sesuatu dalam sejarah yang akan membantu kita dalam melaksanakan manhaj da’wah tadi. Jadi tadak ada lagi forum yang didalamnya berisi kata-kata mutiara dari qiyadah yang lebih tinggi tentang metode-metode praktis untuk menyelesaikan problematika amanahnya, karena seharusnya sudah terjawab pada wilayah yang mempunyai permasalahan dengan menggunakan metode penyelesaian yang islami “Syuro”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s