Da’wah di UB nich….

Malang, 29 Januari 2007

Kita sering menggunakan selera kita dalam bertindak dalam memutuskan. Karena dari hari ke hari saya merenungkan. Kita tidak dibayar manusia dalam berda’wah. Posisi struktural adalah jebakan yang sangat dahsyat. Tetapi bagaimana, jika selera pemimpin kita membutakan kita. Kita jadi kadang-kadang melakukan apa yang membuat pemimpin senang tapi beranikah kita menegur pemimpin yang keliru?. Apakah ketsiqohan kita kedepankan pada waktu itu?.

Materi yang sering dilupkan adalah ma’rifatullah: matei yang mengajarkan kita untuk menyingkirkan semua ketakutan kita pada selainNya. Materi yang mengajarkan kita untuk selalu berorientasi mendapat pahala dariNya. Sering sekali kita melakukan apa-apa yang diminta pemimpin kita. Tapi, tahukah kita pada waktu itu, kenapa kita harus melakukannya?. Apa jawabannhya lagi-lagi tsiqoh? Iya kan. Bukankah agama ini juga tidak hanya hal-hal yang tidak bisa dirasionalkan! Tapi mungkin kitanya saja yang lemot.

Terbukti, banyak sekali penemuan-penemuan ilmiyah yang mampu menjawab atau menafsirkan ayat-ayat dalam al-qur’an. Kita masih punya banyak waktu untuk meminta penjelasan, kenapa keputusan itu muncul. Saya jadi ingin mengupas sejarah tentang perang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s