Dari ASY”AD Hamba Allah untuk mereka yang rindu melakukan jual-beli dengan Allah

” Kedzoliman dan Kebathilan Adalah Musuh Allah SWT dan Ana”
”Jika Ada pemimpin yang tidak Adil maka akan ana luruskan dengan Pedang”
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaykum Warohmatullahi Wabarokatuh

Sesungguhnya segala puji bagi Allah Tuhan yang memelihara sekalian alam. Kita memuji Dia, meminta pertolongan kepadaNya, memohon ampun kepadaNya, dan kita meminta perlindungan kepada Allah s.w.t. dari segenap kejahatan diri kita dan dari segala keburukan usaha kita. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah s.w.t. maka tiada siapa yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah s.w.t., maka tidak siapapun dapat memberi hidayah kepadanya. Aku mengaku bahawasanya Muhammad (s.a.w) itu hambaNya dan pesuruhNya. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah firman Allah s.w.t. dan sebaik-sebaik hidayah ialah hidayah Muhammad s.a.w.. Sejahat-jahat perkara ialah perkara yang direka-reka di dalam agama dan setiap rekaan adalah bid’ah dan tiap-tiap bid’ah adalah kesesatan dan tiap-tiap kesesatan tempatnya di dalam neraka.

Akhowati Fiddien Rohimakumullah,
Tatkala Allah SWT memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, Ia tak hanya menyuruh mereka untuk taat melaksanakannya melainkan juga harus mengambilnya dengan quwwah yang bermakna jiddiyah, kesungguhan-sungguhan. Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.

Namun kebatilan pun dibela dengan sungguh-sungguh oleh para pendukungnya, oleh karena itulah Ali bin Abi Thalib ra menyatakan : “Al-haq yang tidak ditata dengan baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang tertata dengan baik”. Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.

Seperti digambarkan dalam QS. 11:120, orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita. Seringkali kurangnya jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita mudah berkata hal-hal yang membatalkan keteladanan mereka atas diri kita. Misalnya: “Ah itu kan Nabi, kita bukan Nabi. Ah itu kan istri Nabi, kita kan bukan istri Nabi”. Padahal memang tanpa jiddiyah sulit bagi kita untuk menarik ibrah dari keteladanan para Nabi, Rasul dan pengikut-pengikutnya. Dengan iman terhadap hari akhir, seorang pejuang tidak kenal putus asa. Apa dan berapa saja pengorbanan di jalan Allah, ia sangat yakin akan catatan dan ganjarannya. Bahkan, Alquran melarang mengatakan mujahid yang syahid di jalan Allah sebagai mati karena mereka memang hidup (QS 2:154/ 3:169).

Iman terhadap hari akhir menyuburkan sikap tanggung jawab. Mereka yang dipuji-Nya sebagai orang-orang yang ”… pagi dan petang bertasbih di rumah-rumah Allah” adalah orang-orang yang tidak terlalaikan oleh aktivitas perdagangan dan jual beli, dari mengingat Allah, menegakkan shalat dan menunaikan shalat, ”Karena mereka takut akan hari saat berguncang-guncangnya hati dan penglihatan… (Qs 24:37)

Iman ini juga menghasilkan, memelihara, dan meningkatkan keikhlasan, keteguhan, dan semangat juang. Keberanian, kesungguhan dan optimisme adalah ciri khas mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Tidak ada yang dapat menyuburkan iman seorang mukmin sebaik pengorbanan, seperti pupuk menyuburkan tetumbuhan. Seseorang yang berjiwa besar sangat sadar bahwa kemuliaan, kepemimpinan dan kebahagiaan tak mungkin diraih tanpa pengorbanan

Akhowati Fiddien Rohimakumullah,
“Dan jika kamu berpaling, maka ALLAH akan gantikan dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan jadi seperti kamu” (Qs. 47: 38).
Masing-masing kita punya pengalaman pribadi dalam da’wah ini. Ada yang sejak 20 tahun terakhir dalam kesibukan yang tinggi, tidak pernah terganggu oleh kunjungan yang berbenturan dengan jadwal da’wah atau oleh urusan yang merugikan da’wah. Mengapa ? Karena sejak awal yang bersangkutan telah tegar dalam mengutamakan kepentingan da’-wah dan menepiskan kepentingan lainnya. Ini jauh dari fikiran nekad yang membuat seorang melarikan diri dari tanggungjawab keluarga.

Ada seorang ikhwah sekarang sudah masuk jajaran masyaikh. Dia bercerita, ketika menikah langsung berpisah dari kedua orang tua masing-masing, untuk belajar hidup mandiri atau alasan lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi pemeliharaan iman menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah petak sederhana. “Begitu harus berangkat (berdakwah-red) mendung menggantung di wajah pengantinku tercinta”, tuturnya. Dia tidak keluar melepas sang suami tetapi menangis sedih dan bingung, seakan doktrin da’wah telah mengelupas. Kala itu jarang da’i dan murabbi yang pulang malam apalagi petang hari, karena mereka biasa pulang pagi hari. Perangpun mulai berkecamuk dihati, seperti Juraij sang abid yang kebingungan karena kekhususan ibadah (sunnah) nya terusik panggilan ibu. “Ummi au shalati : Ibuku atau shalatku?” Sekarang yang membingungkan justru “Zauji au da’wati” : Isteriku atau da’wahku ?”.

Dia mulai gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada istrinya : “Kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam da’wah. Apa pantas sesudah da’wah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan da’wah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya tapi kita pun cinta Allah”. Dia pergi menerobos segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari. Beberapa tahun kemudian setelah beranak tiga atau empat, saat kelesuan menerpanya, justru istri dan anak-anaknyalah yang mengingatkan, mengapa tidak berangkat dan tetap tinggal dirumah? Sekarang ini keluarga da’wah tersebut sudah menikmati berkah da’wah.

Lain lagi kisah sepasang suami istri yang juga dari masyarakat da’wah. Kisahnya mirip, penyikapannya yang berbeda. Pengantinnya tidak siap ditinggalkan untuk da’wah. Perang bathin terjadi dan malam itu ia absen dalam pertemuan kader (liqa’). Dilakukan muhasabah terhadapnya sampai menangis-menangis, ia sudah kalah oleh penyakit “syaghalatna amwaluna waahluna : kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga” (Qs. 48:11). Ia berjanji pada dirinya : “Meskipun terjadi hujan, petir dan gempa saya harus hadir dalam tugas-tugas da’wah”. Pada giliran berangkat keesokan harinya ada ketukan kecil dipintu, ternyata mertua datang. “Wah ia yang sudah memberikan putrinya kepadaku, bagaimana mungkin kutinggalkan?”. Maka ia pun absen lagi dan dimuhasabah lagi sampai dan menangis-nangis lagi. Saat tugas da’wah besok apapun yang terjadi, mau hujan, badai, mertua datang dll pokoknya saya harus datang. Dan begitu pula ketika harus berangkat ternyata ujian dan cobaan datang kembali dan iapun tak hadir lagi dalam tugas-tugas dak-wah. Sampai hari ini pun saya melihat jenis akh tersebut belum memiliki komitmen dan disiplin yang baik. Tidak pernah merasakan memiliki kelezatan duduk cukup lama dalam forum da’wah, baik halaqah atau pun musyawarah yang keseluruhannya penuh berkah. Sebenarnya adakah pertemuan-pertemuan yang lebih lezat selain pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh ikhwah berwajah jernih berhati ikhlas ? Saya tak tahu apakah mereka menemukan sesuatu yang lain, “in lam takun bihim falan takuna bighoirihim”.

Akhowati Fiddien Rohimakumullah,
Perlu kehati-hatian – sesudah syukur – karena kita hidup di masyarakat Da’wah dengan tingkat husnuzzhan yang sangat tinggi. Mereka yang cerdas tidak akan membodohi diri mereka sendiri dengan percaya kepada sangkaan baik orang kepada dirinya, sementara sang diri sangat faham bahwa ia tak berhak atas kemuliaan itu. Gemetar tubuh Abu Bakar RA bila disanjung. “Ya ALLAH, jadikan daku lebih baik dari yang mereka sangka, jangan hukum daku lantaran ucapan mereka dan ampuni daku karena ketidaktahuan mereka”, demikian ujarnya lirih. Dimana posisi kita dari kebajikan Abu Bakr Shiddiq RA ? “Alangkah bodoh kita, percaya kepada sangka baik orang kepadakita, padahal kita tahu betapa diri jauh dari kebaikan itu”, demikian kecaman Syaikh Harits Almuhasibi dan Ibnu Athai’Llah.

Diantara nikmat ALLAH ialah sitr (penutup) yang ALLAH berikan para hamba-Nya, sehingga aibnya tak dilihat orang. Namun pelamun selalu mengkhayal tanpa mau merubah diri. Demikian mereka yang memanfaatkan lapang hati komunitas da’wah tumbuh dan menjadi tua sebagai seniman maaf, “Afwan ya Akhi”.{}

Betapa menyedihkan, kader yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-Nya. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah-kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikut, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.

Ketika Da’wah ini muncul dan eksis dalam waktu yang sangat singkat, ia telah menyata-kan jatidirinya dengan jelas. Ia adalah kemenangan bagi siapa saja yang mau berjuang, tidak peduli anak siapa dan berapa kekayaan bapaknya. Ia tidak peduli penolakan Bani Israil paska nabi Musa AS ketika nabi mereka menyatakan bahwa Thalut yang miskin telah dipilih ALLAH untuk menjadi pemimpin mereka (Qs.2:247). Ia tidak juga meman-jakan ‘kesombongan intelektualisme’ kaum nabi Nuh AS yang mencap Nuh hanya diikuti oleh ‘orang-orang rendah, yang dangkal fikiran’ (aradziluna. badia’r ra’yi, tidak kritis, Qs. 11:27). Bahkan ia pun tak sungkan-sungkan menegur keras nabinya karena ‘logika prioritas’ yang dibangunnya menyebabkan Abdullah bin Ummi Maktum ‘nyaris tertinggal’. Alqur-an menyebutkan “Ia telah bermasam muka dan berpaling, ketika datang kepadanya hamba yang buta……” (Qs. 80:1-2).

Dimana posisimu ? Mungkin beberapa kalangan akan keberatan bila kukatakan engkau telah menyulam halaman da’wah di negeri ini dengan benang emas dan menyemaikan benih-benih berkah di lahan tandus, sehingga berubah menjadi ladang-ladang subur masa depan. Pohon keadilan, buah kemakmuran, bunga kesetaraan, ranah kesetiaan dan rumah kasih sayang. Bukan tujuanmu menciptakan iri. Ada yang begitu geram ketika hamba-hamba ALLAH perempuan keluar dari setiap gang dan kampus dengan jilbab mereka yang anggun dan IP mereka yang cemerleng. 20 tahun yang lalu harus keluar dari sekolah negeri yang dibangun dengan uang pajak mereka sendiri. Ya, kebangkitan memang bukan hanya sisi ini, namun banyak kebaikan tersimpulkan pada aspek ini. Intinya ; Perubahan.

Dan hari ini puncak gunung es itu telah memperlihatkan dinamika besar kebangkitan, shahwah yang penuh berkah. Tauhid adalah sistem konstruksi terpadu yang meletakkan segalanya tepat pada tempat, peran dan kepatutannya. Intelektual adalah sistem pengapianmu yang tak pernah padam. Kader-kader yang selalu ikhlas berkorban adalah roda yang siap menjelajah medan-medan berat. Keulamaan adalah sistem kendali-mu yang tahu kapan harus berbelok, menanjak, menurun dan menerobos hutan belantara, padang tandus serta bebatuan. Yang tak bergaransi ialah kondisi jalan, bahkan sekali pun dengan rute yang jelas dan lurus, kendaraan yang teruji, kru yang jujur, pakar dan sabar. Dari semua setting ini, tentukanlah dimana posisimu ; penonton yang mencari hiburan, penunggu yang tak punya empati, atau pengharap kegagalan karena ada yang tak sejalan dengan persepsi mereka. Atau penuntun dan pengikut dengan pengenalan sistem navigasi yang akurat dan keyakinan yang mantap, bahwa laut tetap bergelom-bang dan di seberang ada pantai harapan.

Ada sebuah analogi menarik. suatu ketika ada 2 ekor tikus(tikus A dan B) yang sengaja diletakkan di papan permaninan. Tugas utamanya adalah untuk mencari keju agar mereka tetap bisa bertahan hidup. Setiap pagi hari diletakkan keju pada gang/ tempat yang sama. Dengan mudah tikus-tikus itu makan setiap pagi harinya, kemudian kembali ke sarangnya (Tempat awal berangkat). Hal ini terjadi dalam kurun waktu 40 hari, pada hari ke 41, betapa terkejutnya 2 ekor tikus ini, karena di gang yang biasanya diletakkan keju, pada hari itu tidak ada lagi. Akhirnya kedua tikus itu pulang dengan perut kosong. Keesokan pagi harinya mereka berangkat pada jam yang sama di pagi hari, tapi betapa menyakitkan kenyataan yang mereka dapati. Mereka tidak menemukan keju mereka. Dan mereka kembali lagi dalam keadaan perut kosong. Hal ini terjadi dalam waktu 2 hari. Pada saat malam hari, hari ke3. tikus A merenungkan dan berfikir tentang kejadian beberapa hari ini. Dan akhirnya memutuskan tuk membulatkan tekad dengan mengajak saudaranya (Tikus B) untuk besok pagi berangkat lebih pagi, dengan harapan mencari keju2 yang tersembunyi di gang/tempat lain. Ketika pagi hari, dibangunkanlah tikus B untuk mendengarkan pemikirannya. Tetapi, tikus B rupanya enggan untuk berangkat lebih pagi, karena memilih tidur pulas. Dan gak mau menukar pulasnya tidur dengan pengorbanan untuk mencari keju2 yang tersembunyi di gang-gang. Ujung dari harapan baik tikus B yang tidak berbalas, tidak mnenyurutkan langkah Tikus A. Dia tetap berangkat lebih pagi. Sampai di gang yang biasanya terdapat keju, dia memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya pertamakali, mengarungi jalan baru, dengan harapan “Aku harus menemukan keju untuk bertahan hidup”. Tapi sayang, karena jarak yang sudah ditempuh terlalu jauh dan waktu sudah larut malam, dia memutuskan untuk pulang saja. Juga dengan perut kosong, tapi dengan semangat yang makin membara.

Keesokan harinya dia (tikus A) melakukan hal yang serupa -mengajak saudaranya yang masih tidur- untuk menyusuri gang-gang untuk mencari tempat penyimpanan keju baru. Tapi kekecewaan lagi yang ia dapatkan. Pagi itu dia berangkat menyusuri jalan yang kemarin dia telah lewati sendirian. Hal serupa juga dilakukan Tikus B, tapi Tikus B hanya sampai di tempat yang sama, dimana peneliti meletakkan keju. Dan kembali dengan perut kosong setiap harinya, karena dia selalu berfikir “mungkin, besok akan ada keju”. Disaat bersamaan Alangkah mengejutkan, saat Tikus A menemukan tempat keju baru. Dia lantas makan sepuasnya dan karena sudah larut malam, dia tertidur karena kelelahan. Keesokan harinya Tikus A, masih melakukan rutinitasnya yang sama dan menyisakan keju dengan sepucuk surat untuk memotivasi saudaranya. Yang isinya: “Saudaraku, nilai pengorbananku –dengan meninggalkan tidur pulas dan berangkat lebih pagi untuk mencari keju-kini telah berbuah. Sebuah pilihan memang, apakah kita akan hidup pada persepsi ”mungkin besok akan ada keju” atau berjuang dengan mencoba melangkah untuk mewujudkannya menjadi nyata. Meski harus mengorbankan nyawa. Karena aku tidak mau mati dalam persepsi, tapi dalam langkah-langkah perjuangan”. Singkat cerita ukh, Tikus A terus berjuang dan menemukan apa yang dia harapkan. Juga tidak lupa dengan saudaranya, di hatinya berkata “apa yang saudaraku lakukan saat ini?mungkin yang harus aku lakukan adalah terus meninggalkan kata-kata motivasi, barangkali dia akan tambah semangat untuk mencari keju saat melihat tulisan yang aku tinggalkan di dinding ini”. Akhirnya Tikus B mati kelaparan, karena energinya terkuras habis untuk pulang-pergi dari tempat yang sama. Sedangkan Tikus A dapat keluar dari papan permainan itu. Khotimah : bayangkan, jika dalam ber jama’ah antum hanya ber2 saja seperti kisah di atas. Kemudian pertanyaannya antum mau menjadi siapa?(tapi jangan pingin jadi tikus Lho ya… ukh ;› ). Atau antum memilih mati berdua, karena gagal mengajak saudara antum?. Atau menjadi orang yang sangat kuat dengan berjuang (walau sendirian) untuk terus mencoba. Bedanya adalah kita punya Allah SWT yang memiliki dan mengasai langit dan bumi. Ketahuilah, Allah tidak pelit!!!tapi kadang, sama Allah saja kita tidak takut dengan terus-terusan bermaksiyat. Hal itu yang seharusnya menginspirasi Kita untuk tetap berjuang, meski sendirian. Karena Kita takut Nerakanya Allah yang apabila diletakkan kaki kita, maka otak kita akan mendidih, karena ketidak seriusan Kita dalam mengemban misi Da’i. Juga Berharap cemas, apakah Kita akan masuk surganya Allah, padahal apa yang Kita berikan untuk Islam belum sama seperti apa yang Kita dapat dari Allah. Inilah yang menginspirasi Kita untuk memberanikan diri memenggal kepala seseorang yang dengan jelas menghina Allah di depan mata Kita, meskipun sendirian. Tentu saja setelah dia jelas-jelas menunjukkan kebenciannya pada Allah, dan Kita sudah memastikannya. Karena mungkin seperti persepsi tikus A “mungkin ada segudang keju di gang berikutnya”, mungkin Kita akan masuk surganya Allah dengan ini. Allah, telah menunjukkan caranya yang sangat bijaksana agar kita bisa lebih baik.

Itulah mengapa, ketika allah mengatakan dalam Al-Qur’an ihdinash Shirothol mustakim. Shirotholladzina an’amta ‘alaihim…. . karena Allah ingin mengatakan: Semestinya orang-orang yang sholih yang Aku beri petunjuk, mampu menginspirasi Kalian untuk meniru keshilihannya. Semestinya Orang-orang kuat, tegar dan militan yang Aku beri petunjuk (Khodidjah, ‘Aisyah dll) menginspirasi Kalian untuk meneladani perjuangannya. Dan sangat indah sekali ketika tarbiyah, mendefinisakan ma’na tarbiyah itu sendiri, yaitu mengharuskan seseorang lebih baik dari hari-kehari. Saudariku, Kalau nanti Allah memilihku menjadi syahid, akan datang saudaraku menemuimu Membawa sebuah pundi kecil. Itulah darahku Siramlah taman jihad dan Da’wah di Fakultas Hukum, di Bastra, dan di FIA(Ini Kata2nya Ust. Osamah Bin Laden). Terakhir. Ajarilah Akhowat-akhowat yang bisu untuk bisa bicara. Agar mereka bisa berteriak!. Tanamlah bibit keberanian di ladang jiwa Akhowat-akhowat pengecut, agar mereka bisa melawan!. Kobarkan harapan di langit hati akhowat yang terjajah, agar mereka berontak!. Allahu Akbar!!!!. Perpisahan…Sesuatu yang tidak akan bisa dilepaskan dari sebuah rangkaian pertemuan. Bahwa setiap pertemuan akan diakhiri dengan perpisahan. Mungkin terpisah oleh jarak, mungkin terpisah oleh ruang, dan mungkin juga dipisahkan oleh Allah, Yang maha kuasa dalam mempertemukan dan memisahkan. Ana tau bahwa ikatan ukhuwah itu begitu kokoh dan akan kekal sepanjang masa. Ana tau bahwa kekokohan ikatannya insyaAllah tidak akan pudar walau terpisah ruang dan jarak. Ana tau bahwa Allah akan selalu mengikatkan hati – hati orang yang mencintai-Nya. tapi…kenapa air mata ini tetap mengalir….dan kenapa Ukhuwah ini begitu dalam hingga rasanya perpisahan terasa begitu berat…Minta do’anya, agar dimanapun kita, kita bisa bermanfaat bagi ISLAM dan orang lain.(dikutip dari berbagai sumber)

Semoga Allah menunjuki kita jalan orang-orang yang diberi petunjuk (Qs Al-Fatihah : 4&5).
Jazakumullah Khoiron Katsiro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s