Terbaru di jalan da’wah

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.(Qs Al-Mulk 1&2).
Pilihannya adalah: kita mau beralamal lewat jama’ah atau sendirian. Munculnya jama’ah adalah berangkat dari kesadaran kolektif yang mengatakan bahwa “sebuah sasaran besar, hanya akan didapat/ diraih dengan kerja dan pemikiran banyak orang. dengan tentu saja, ada yang mengkoordinir”. sekarang Ingat, bahwa tujuan akhir jama’ah apa? Yaitu menjadikan anggotanya menjadi lebih mengenal Allah (secara umum) dan mendirikan khilafah untuk menerapkan syari’atnya Allah di buminya (khususnya). Maka, jama’ah berarti adalah strategi yang kita gunakan dan BUKAN TUJUAN. Atau bisa juga, sebagai “pewarna” dari orang-orang yang sudah tersadarkan dari kegelapan menuju cahayaNya. Sekarang kita mengetahui bahwa jama’ah adalah sarana. Maka, akan muncul 2 persepsi. Persepsi yang pertama adalah persepsi dari pengelola jama’ah itu sendiri dan persepsi anggotanya. Makanya, jangan lagi kita menyeru pada jama’ah tapi pada Allah (Qs:16:125). Jadikan Ukhuwah diatas segalanya. Karena kita dipersatukan oleh Allah dalam islam ini, bukan karena kesamaan warna kulit, kesamaan daerah, kesamaan bendera. Tapi lebih mulia dari itu semua. Karena, Banyaknya jama’ah tetap mengsung satu hal. Yaitu menegakkan kalimat Allah di muka bumiNya. Menjadikan Allah sebagai tujuan hidup semua orang. Jadi, jangan karena kita berbeda bendera. Maka, jangan saling menjatuhkan setelah ini!
Secara umum jama’ah hanya akan lengkap, jika memiliki 3 hal penting. Yaitu: pemimpin yang amanah, jundi yang taat/tsiqoh, dan sistem yang mengatur/kalau saya definisikan adalah lebih mirip dengan manhaj jama’ah. Permasalahannya adalah Idealisme. Seperti keimanan dan ketaqwaan, mereka juga mendekati idealisme. Sekarang berarti, seseorang yang tidak mau menjadi ideal atau paling tidak mendekati ideal, bisa dikatakan sedang mengalami stagnan dalam hidupnya. Karena dia pasti melihat banyak hambatan yang harus dihindari, bukan dilewati. Kemudian menyesuaikan dirinya dengan kenyataan yang ada. Bukankah, kita ada untuk merubah keadaan? Jama’ah juga seperti itu. Semuanya akan berjalan dengan baik, jika semua berlomba-lomba melihat sebuah kenyataan bukan untuk dijadikan apologi, melainkan untuk ditundukkan.
Qiyadah yang amanah dan jundi yang taat/ tsiqoh seperti apa, mungkin tidak perlu panjang lebar dibahas di sini. Pilihan dari jama’ah itu sendiri, apakah dia mau memunculkan sistem atau manhajnya. Tetapi, jika dipandang dari persepsi anggota sebuah jama’ah, Pasti banyak sekali dzon dan dampak yang muncul karena tidak jelasnya manhaj yang dipakai. Karena yang sering terjadi, pasti kebanyakan keputusan yang dibuat pemimpin akan banyak tercampuri seleranya, dan bukan manhaj da’wah yang dipakainya. Bahkan mungkin, kita seakan-akan menjadi “sapi perahan” jama’ah. Anggota tidak lagi beramal lewat jama’ah. Tapi, justru jama’ah yang megatur potensi Anggotanya, bukannya malah jama’ah yang mengatur Anggotanya yang berpotensi untuk ditempatkan di amanah yang sesuai dengan kafaahnya. Manhajnya jama’ah sebaiknya tidak terlalu luas derivasinya dengan manhaj Allah, manhaj nubuwah. Misalnya, jika kita memimpin sebuah organisasi. Jika kita nanti diberikan kesempatan untuk menjadi qiyadah di sana. Maka hal pertama yang harus kita lakukan, adalah mengevaluasi, apakah hal-hal yang mengatur jalannya organisasi untuk mencapai tujuannya tidak bertentangan dengan apa yang diharapkan Allah. Setelah itu dibahas bersama seluruh anggota, maka hal yang telah dihasilkan tersebut dijadikan manhaj organisasi kita. Dan kelebihan jika kita mengenal betul manhaj organisasi kita, pertama kita akan bisa membedakan keputusan pemimpin kita, kebanyakan datangnya dari aplikasi manhaj/dari seleranya yang menjelma menjadi perintah. Kedua, kita akan tahu peran, fungsi dan tanggung jawab kita dalam organisasi itu, hal ini sangat membantu untuk mengoptimalkan apa-apa yang bisa kita lakukan untuk jama’ah / organisasi yang sedang kita ikuti. Yang tak kalah pentingnya juga, jadikan history / sejarah organisasi sebagai pelajaran untuk menjadikan organisasi ke depan lebih baik. Lha wong Allah saja punya manhaj bagi ciptaannya mulai dari nabi Adam AS sampai nabi Muhammad SAW. Yang sampai sekarang masih kita jadikan rujukan penyelesaian problematika hidup, yaitu Al-qur’an Al-Karim. Cobalah kita tiru bagaimana manhaj Allah yang me-Level kan hambanya, dengan sebutan yaa Ayyuhannaas, atau yaa Ayyuhal muttaqin. Semuanya dengan porsi yang benar. Jadikan manhaj / sistem organisasi Antum tepat dan sesuai dengan kafaah kader dalam mengklasifiskasikan tugas dan wewenang serta tanggungjawabnya. Landasan history penting untuk dijadikan pertimbangan dalam pembuatan manhaj. Karena dalam sebuah buku yang berjudul “runtuhnya dawah di tangan para da’I” adalah kita sering mengulang kesalahan-kesalahan kita yang sama, karena kita tidak pernah belajar dari sejarah. Juga Allah telah mengatakan dalam Qur’an Surat 29.15 (……dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia). Jadi, intinya. Ambil pelajaran dari semua peristiwa. Kemudian juga, pilihlah jundi yang benar-benar mampu menerima amanah, bukan dimampukan dengan diberi amanah!. Karena jika kita berorientasi pada kuantitas dan bukan pada kualitas, maka seiring dengan perjalanan organisasi, kita akan direpotkan dengan menyelesaikan permasalahan jundi kita tadi. Mari kita serius dalam mengelola organisasi kita. Bangkit, hancurkan kedzoliman Allahu Akbar!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s